BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG KEGIATAN
Kota Kendari telah tumbuh dengan pesat sebagai pusat pengembangan sub wilayah dan implikasi peran tersebut dimana fungsi dasar sebagai tempat berlangsungnya fungsi kegiatan jasa distribusi dengan jangkauan pelayanan skala regional. Secara geografis kota Kendari terbentuk sebagai ekosistem Estuaria, di mana teluk Kendari memiliki potensi besar untuk pengembangan agroindustri (perikanan) mendukung sektor pertanian.
Pada awalnya kota Kendari hanya merupakan suatu simpul dengan luas wilayah 31,92 km2 (thn 1960), berkembang pada suatu tepian (waterfront) ditandai sebagai pusat kota lama dengan fasilitas perdagangan dan pelabuhan antarpulau.
Minggu, 22 Mei 2011
Kamis, 20 Agustus 2009
Faktor Penyebab Tumbuhnya Permukiman Kumuh Di Pusat Kota Dan Kawasan Pesisir Pantai
Pada dasarnya suatu permukiman kumuh terdiri dari beberapa aspek penting, yaitu tanah/lahan, rumah/perumahan, komunitas, sarana dan prasarana dasar, yang terajut dalam suatu sistem sosial, sistem ekonomi dan budaya baik dalam suatu ekosistem lingkungan permukiman kumuh itu sendiri atau ekosistem kota. oleh karena itu permukiman kumuh harus senantiasa dipandang secara utuh dan integral dalam dimensi yang lebih luas. Beberapa dimensi permukiman kumuh yang menjadi penyebab tumbuhnya permukiman adalah sebagai berikut:
Pada dasarnya suatu permukiman kumuh terdiri dari beberapa aspek penting, yaitu tanah/lahan, rumah/perumahan, komunitas, sarana dan prasarana dasar, yang terajut dalam suatu sistem sosial, sistem ekonomi dan budaya baik dalam suatu ekosistem lingkungan permukiman kumuh itu sendiri atau ekosistem kota. oleh karena itu permukiman kumuh harus senantiasa dipandang secara utuh dan integral dalam dimensi yang lebih luas. Beberapa dimensi permukiman kumuh yang menjadi penyebab tumbuhnya permukiman adalah sebagai berikut:
Sentrifugal dan Senripetal
Berdasarkan faktor perkembangan dan pertumbuhan kota yang terbentuk secara kompleks ternyata terdapat gaya sentrifugal dan gaya sentripetal yang sangat mempengaruhi perkembangan kota itu sendiri terhadap daerah-daerah lain yang ada di sekitarnya. Menurut C.Corby (Yunus, 2002) di dalam kota terdapat gaya dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan lahan kota, maka pola penggunaan lahan kota ini sendiri tidak bersifat statis. Secara garis besar, gaya tersebut, yaitu ;
Berdasarkan faktor perkembangan dan pertumbuhan kota yang terbentuk secara kompleks ternyata terdapat gaya sentrifugal dan gaya sentripetal yang sangat mempengaruhi perkembangan kota itu sendiri terhadap daerah-daerah lain yang ada di sekitarnya. Menurut C.Corby (Yunus, 2002) di dalam kota terdapat gaya dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan lahan kota, maka pola penggunaan lahan kota ini sendiri tidak bersifat statis. Secara garis besar, gaya tersebut, yaitu ;
SUBSTANSI PENYUSUNAN
RTRW PROPINSI
4.1 SUBSTANSI DATA DAN ANALISIS PENYUSUNAN RTRW PROPINSI
Bagian ini menjelaskan aspek-aspek yang dianalisis dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi dan data (time-series) serta peta (tingkat ketelitian skala 1:250.000) yang diperlukan di dalam analisis tersebut. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk: 1) memahami karakteristik unsur-unsur pembentuk ruang; 2) memahami hubungan sebab akibat terbentuknya kondisi ruang wilayah; 3) mengetahui beberapa fenomena yang ada. Aspek-aspek analisis yang dimaksud meliputi:
RTRW PROPINSI
4.1 SUBSTANSI DATA DAN ANALISIS PENYUSUNAN RTRW PROPINSI
Bagian ini menjelaskan aspek-aspek yang dianalisis dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi dan data (time-series) serta peta (tingkat ketelitian skala 1:250.000) yang diperlukan di dalam analisis tersebut. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk: 1) memahami karakteristik unsur-unsur pembentuk ruang; 2) memahami hubungan sebab akibat terbentuknya kondisi ruang wilayah; 3) mengetahui beberapa fenomena yang ada. Aspek-aspek analisis yang dimaksud meliputi:
TIPOLOGI PERMUKIMAN KUMUH
Tipologi Permukiman Kumuh
Berdasarkan kondisi dan permasalahan lingkungan permukiman yang diamati di lapangan, kawasan permukiman kumuh dapat dibedakan dalam 7 (tujuh) tipologi. (Laporan Review Kawasan Permukiman Kumuh Sulawesi Selatan tahun 2002) Masing-masing tipologi memiliki karakter khas yang memberi corak kehidupan lingkungan permukiman tersebut. Ketujuh tipologi permukiman kumuh tersebut adalah sebagai berikut:
Berdasarkan kondisi dan permasalahan lingkungan permukiman yang diamati di lapangan, kawasan permukiman kumuh dapat dibedakan dalam 7 (tujuh) tipologi. (Laporan Review Kawasan Permukiman Kumuh Sulawesi Selatan tahun 2002) Masing-masing tipologi memiliki karakter khas yang memberi corak kehidupan lingkungan permukiman tersebut. Ketujuh tipologi permukiman kumuh tersebut adalah sebagai berikut:
Bentukan Formasi Permukan Kumuh
Pembentukan/Formasi Permukiman Kumuh
Oscar Lewis (1984) dalam buku “kemiskinan di kota “ mengutarakan bahwa kebanyakan penduduk berimigran dari desa ke kota menjadi kaum gelandangan yang disebutnya sebagai kaum miskin kota atau kaum kumuh, mereka ini biasanya bergerombol pada suatu komunitas yang kadang-kadang membentuk secara temporer perkumpulan-perkumpulan yang menempati wilayah tertentu.
Oscar Lewis (1984) dalam buku “kemiskinan di kota “ mengutarakan bahwa kebanyakan penduduk berimigran dari desa ke kota menjadi kaum gelandangan yang disebutnya sebagai kaum miskin kota atau kaum kumuh, mereka ini biasanya bergerombol pada suatu komunitas yang kadang-kadang membentuk secara temporer perkumpulan-perkumpulan yang menempati wilayah tertentu.
Langganan:
Postingan (Atom)